Analisis Teknikal – Bollinger Bands

Analisis Teknikal – Bollinger Bands

Analisis Teknikal – Bollinger Bands

Analisis Teknikal – Apa itu Bollinger Bands?

Bollinger Bands adalah alat analisis teknikal yang ditentukan oleh serangkaian garis tren yang diplot dua standar deviasi (positif dan negatif) dari rata-rata pergerakan sederhana (SMA) dari harga sekuritas, namun dapat disesuaikan dengan preferensi pengguna.

Analisis Teknikal – Kunci Bollinger Bands?

Bollinger Bands adalah salah satu dari sekian banyak analisis teknikal yang dikembangkan oleh John Bollinger. Untuk menghasilkan sinyal oversold atau overbought.

bollinger bands

Ada tiga garis yang membentuk Bollinger Bands. Pertama Simple moving average yang terletak di tengah. Lalu dua garis lain disebut upper band dan lower band. Band atas dan bawah biasanya 2 standar deviasi +/- dari rata-rata Moving Average 20 hari. Tapi dapat dimodifikasi. Bollinger bands ini dibuat untuk membantu para analis teknikal untuk mengidentifikasi dengan benar kapan suatu saham oversold atau overbought.

Bagaimana cara membaca Bollinger Bands?

Bollinger Bands adalah teknik yang sangat terkenal. Banyak pelaku saham percaya bahwa semakin dekat harga bergerak ke pita atas, pasar semakin overbought, dan semakin dekat harga bergerak ke pita bawah, semakin banyak pasar oversold. John Bollinger punya 22 aturan yang harus diikuti saat kita menggunakan Bollinger Bands sebagai strategi analisis.

Pada grafik yang digambarkan di bawah, Bollinger Bands mengelompokkan Simple Moving Average 20-hari dari saham dengan band atas dan bawah bersama dengan pergerakan harian harga saham. Karena standar deviasi adalah ukuran volatilitas maka ketika pasar menjadi lebih bergejolak, bands (atau pita) atas bawah bisa melebar. Dengan kata lain selama periode yang kurang stabil, pita bisa berkontraksi.

Squeeze

Squeeze adalah konsep sentral Bollinger Bands. Ketika pita atas dan pita bawah itu saling berdekatan, menyempitkan Moving Average, itu disebut Squeeze. Squeeze menandakan periode volatilitas rendah dan dianggap oleh para pedagang sebagai tanda potensial peningkatan volatilitas di masa depan dan kemungkinan peluang perdagangan. Ini juga berlaku Sebaliknya. Semakin lebar pita bergerak, semakin besar kemungkinan penurunan volatilitas nantinya. Berarti semakin besar pula kemungkinan keluar dari perdagangan. Namun, kondisi ini bukan sinyal perdagangan. Pita tidak memberikan indikasi waktu perubahan yang mungkin terjadi atau ke arah mana harga bisa bergerak.

Breakout

Sekitar 90% dari pergerakan harga terjadi antara dua pita. Setiap pergerakan harga menembus (atau breakout) di atas atau di bawah band, maka pelaku saham perlu hati-hati untuk menentukan langkah selanjutnya . Breakout bukanlah sinyal perdagangan. Kesalahan yang biasa dilakukan kebanyakan orang adalah menafsirkan bahwa harga yang mencapai atau melebihi salah satu band adalah sinyal untuk membeli atau menjual. Breakout tidak memberikan prediksi tentang arah dan tingkat pergerakan harga berikutnya di masa depan.

Kelemahan Bollinger Bands

Bollinger Bands bukanlah sistem perdagangan yang berdiri sendiri. Mereka hanyalah salah satu indikator yang dirancang untuk memberi para pedagang informasi mengenai volatilitas harga. John Bollinger menyarankan untuk menggunakannya dengan dua atau tiga indikator lain yang tidak berkorelasi yang memberikan lebih banyak sinyal pasar langsung. Dia percaya sangat penting untuk menggunakan indikator berdasarkan jenis data yang berbeda. Beberapa teknik teknis favoritnya adalah Moving Average Covergence / Divergence (MACD), Volume on-Balance dan relative strength index atau RSI.

Karena dihitung dari rata-rata pergerakan sederhana, mereka menimbang data harga yang lebih lama sama dengan yang terbaru, yang berarti bahwa informasi baru dapat diencerkan oleh data yang sudah usang. Selain itu, penggunaan SMA 20 hari dan 2 standar deviasi agak sewenang-wenang dan mungkin tidak berfungsi untuk semua orang di setiap situasi. Trader harus menyesuaikan asumsi SMA dan standar deviasi mereka dan memantaunya.